Mendalami Seni Konseptual Bersama Gracella Haryadi

Mendalami Seni Konseptual Bersama Gracella Haryadi

Apakah kamu pernah berjalan memasuki museum dan menemukan banyak instalasi yang seolah disusun secara acak, tak beraturan dan sembarangan?

Pasti pernah. Wajar apabila kita merasa bingung sampai sang kreator memberi penjelasan mengenai makna di balik instalasi yang dibuat lengkap dengan pesan yang hendak disampaikannya. Itu merupakan salah satu bagian seni yang dikenal dengan istilah seni konseptual, atau yang berfokus pada makna di balik sebuah tampilan atau objek.

Kali ini kita akan berkenalan dengan salah satu anak muda Tanah Air yang tertarik untuk mendalami seni konseptual bernama Gracella Haryadi. Tidak lama setelah lulus kuliah, dia memutuskan untuk pindah ke Bali dan memulai perjalanannya sebagai seniman di sana. Bagaimana keseluruhan cerita suksesnya? Temukan jawabannya di artikel pilihan yang telah secara apik kami persembahkan hanya di KARENA.ID.

 

Menyampaikan Gagasan Melalui Gambar

Gracella Haryadi, atau yang akrab disapa Chea mengaku sangat senang bergaul. Dirinya senang berinteraksi, bertukar pikiran, saling mengungkapkan perasaan. Sebab dari sana biasanya kita bisa saling memberikan dukungan terhadap satu sama lain. Biasanya, setelah menyimak seseorang curhat kepadanya, Chea akan menanggapi gagasannya melalui gambar.

Chea merasa lebih nyaman memilh cara tersebut karena menurut Chea, gambar adalah Bahasa yang universal. Berbeda dengan Bahasa yang memberi kita batas sebab selal ada perbedaan, gambar sebuah objek tidak butuh nama untuk dapat dipahami. Contohnya, ketika sedang ingin memberikan dukungan, Chea akan memberikan gambar pelangi Tanpa menyebutkan nama pelangi, kita semua sudah tahu ia merupakan pelangi. Dari hal itu, Chea merasa masih banyak hal lain yang dapat dia eksplorasi melalui gambar atau lukisan.

Chea mengaku sudah rutin menyenangi dunia gambar sejak berusia 12. Ketika itu, sedang marak beredar komik Jepang. Chea tidak luput ikut menggandrunginya. Namun, beranjak dewasa, ketika sudah mendapat banyak kesibukan lain, Chea terpaksa berhenti menekuni hobi menggambarnya.

Sementara menjalani masa perkuliahan di jurusan desain interior, Chea hanya fokus menggambar tugas kuliah saja. Sampai suatu ketika dalam perjalanan magangnya ke Sri Lanka, bermodalkan selembar kertas dan pulpen tinta hitam, Chea dapat kembali memenuhi panggilan hidupnya, yaitu menggambar.

Gambar adalah bahasa yang universal.

 

Mengubah Haluan Di Tengah Perjalanan

Seringkali banyak orang yang memilih main aman. Sehingga, di tengah-tengah perjalanan, kita mengabaikan panggilan hidup dari dalam diri dan terus melanjutkan rutinitas di jalur konvensional, yang jelas-jelasan dapat memberikan kemanan sekuritas. Chea tidak termasuk dalam golongan tersebut. Setelah lulus kuliah, alih-alih mencari pekerjaan supaya dapat hidup dengan mapan secara finansial, Chea justru mengubah haluan untuk memenuhi panggilan hidup. Lulus dari jurusan desain interior, Chae melakukan program pertukaran budaya ke dua negara. Dari Bali, Chea bertolak ke Malaysia, kemudian Sri Lanka, sebelum kembali ke Jakarta.

Di Malaysia, Chea membaca sebuah buku yang menyarankannya untuk menulis dua surat wasiat. Surat wasiat pertama harus ditulisnya untuk versi dirinya yang menjalani hidup di zona aman. Sementara surat wasiat kedua ditulisnya bagi versi dirinya yang hidup mengikuti passion. Ketika menulis surat wasiat yang kedua, Chea merasakan energi yang sungguh berbeda. Di surat wasiat kedua itu, Chea merasa lebih hidup dan dia tahu bahwa pilihan kedua itu akan memberinya kesempatan untuk mewariskan sesuatu yang jauh lebih berharga. Pengalaman itu kemudian memberi Chea keberanian untuk memantapkan pilihannya dalam memenuhi panggilan hidup.

Didukung oleh kedua orang tua yang supportive, selesai menempuh program pertukaran budaya Chea terbang dan menetap di Bali. Dua bulan pertama, Chea hanya mengenal dua orang. Chea memberanikan diri untuk menciptakan lingkungan pergaulan dengan berinteraksi dengan orang-orang asing, dibuatkannya mereka gambar hasil karyanya. Saat itu pula Chea memulai bisnisnya, yakni hand painting jacket. Chea pikir, seni dan fashion adalah dua dunia yang apabila digabungkan akan menghasilkan nilai yang dapat diterima baik oleh pasar. Maka, Chea melukis di atas kain jaket.

Chea tidak langsung mendapat respon yang positif. Semula, ketika melihat karya-karya Chea, orang menyarankan Chea untuk belajar menggunakan lebih banyak warna. Sebab hasil karya Chea bernuansa hitam putih, sesuai dengan momen Chea kembali menggambar di Sri Lanka, yang hanya bermodalkan pulpen dan kertas. Namun, ketika memaksakan diri menggambar dengan warna, Chea mengaku tidak menemukan keberadaan dirinya pada hasil karya tersebut. Akhirnya Chea memutuskan untuk menggambar dengan warna hanya untuk proyek pesanan klien. Sementara untuk proyek pribadinya, Chea sudah nyaman mengeksplorasi nuansa monokrom, atau perpaduan hitam dan putih. 

Seni dan Fashion adalah 2 dunia, yang apabila digabungkan akan menghasilkan nilai yang dapat diterima dengan baik di pasar.

 

Konsisten Dan Bertanggung Jawab Atas Pilihan

Mungkin Anda penasaran mengenai bagaimana Chea mendapat restu kedua orang tuanya. Sebab, bagi Chea, restu orang tua adalah hal terpenting yang harus kita perhatikan. Untuk mendapatkannya, Chea perlu menunjukan konsistensinya terlebih dahulu di bidang yang dia minati, sampai dia berhasil menunjukan hasil konkret. Hasil konkret tersebut merupakan tanggung jawab yang dipenuhi Chea atas pilihan yang ditempuhnya. Sebab banyak orang mengambil suatu pilihan, tetapi tidak bisa bertanggung jawab dan konsisten terhadap pilihannya sendiri.

Selain itu, Chea juga menyarankan teman-teman yang memiliki minat yang sama dengannya supaya terus belajar dan bereskplorasi. Setiap hari, Chea biasanya menerapkan 3 target yang akan dipelajarinya pada hari tersebut. Hal tersebut merupakan upaya yang ditempuh Chea demi dapat menjadi original content creator. Chea paham bahwa karyanya tidak dapat serta merta menjadi sempurna secara instan.

Itu adalah sesuatu yang hanya dapat diraihnya melalui latihan. Maka, ketika tidak sedang disibukkan oleh pekerjaan dari klien, Chea menghabiskan waktunya untuk berlatih menggambar. Ditambah mempelajari elemen lain dalam berbisnis yang saat ini belum secara total dikuasainya. Chea banyak bertanya pada orang-orang di sekeliling yang berkenan membantunya dan terus memberinya inspirasi.

Bicara inspirasi, bagi Chea, Salvador Dali adalah pelukis panutannya. Melalui Salvador Dali, Chea menjadi sadar bahwa seorang pelukis memiliki peluang untuk mengutak-atik bentuk suatu objek dan di situlah Chea dapat menuangkan imajinasinya.

Sampai hari ini, Chea tidak pernah merasa menyesal untuk pindah ke Bali untuk menjadi pengusaha yang produknya merupakan hasil karya dirinya yang idealis.

Menyaksikan keberanian Chea, kita mungkin jadi terpantik untuk memberanikan diri melakukan sesuatu yang selama ini masih kita tunda.

Terima kasih telah membaca salah satu artikel berdasarkan tokoh inspiratif kita kali ini. Ikuti terus kisah inspiratif lainnya hanya di KARENA.ID.

Kembali ke blog