Mengenal Beragam Jenis Investor Bersama Shinta W Dhanuwardoyo

Mengenal Beragam Jenis Investor Bersama Shinta W Dhanuwardoyo

Memulai studi di bidang arsitektur, Shinta W Dhanuwardoyo, yang tidak memiliki latar belakang pendidikan di bidang teknologi tidak pernah menduga bahwa suatu hari internet akan menjadi panggilan hidupnya. Satu-satunya alasan mengapa ia memutuskan untuk terjun ke Industri ini begitu sederhana; karena ia jatuh cinta.

Pada saat internet mulai merambah ke Indonesia, Shinta tahu bahwa keberadaannya tidak akan berhenti di situ. Shinta memiliki intuisi bahwa suatu hari, internet akan menjadi bagian terbesar dalam hidup manusia. Bermodalkan passion dan insting, dua elemen yang bila dijalani dengan gigih telah terbukti membawa kesuksesan, Shinta mengajak seorang programmer untuk membangun perusahaan web design yang ia beri nama Bubu.com. Dua puluh lima tahun kemudian, Shinta bertransformasi menjadi investor tersohor yang kita miliki di negeri ini.

Dalam artikel kali ini, Karena.id akan memaparkan jenis-jenis investor di industri digital yang mungkin Anda butuhkan.

 

Angel Investor

Sesuai namanya, Angel Investor merupakan sosok investor yang berhati besar. Mengapa demikian, sebab ia akan menerima tawaran investasi dengan risiko yang paling tinggi. Ia mengirimkan dana yang dimilikinya pada perusahaan-perusahaan yang baru berjalan. Tanpa ada jaminan pasti atas keberhasilan, seorang Angel Investor biasanya akan melibatkan diri cukup dalam ke perusahaan. Bisnis bukan satu-satunya motif baginya untuk memilih investasi, tetapi ia juga harus memiliki ketertarikan khusus terhadap perusahaan serta orang-orang yang membangunnya.

Shinta Bubu memilih jenis yang satu ini saat berinvestasi. Ia mencari perusahaan startup yang memiliki passion serupa dengan yang dimilikinya. Bukan hanya uang, tetapi ia juga mengharapkan adanya gebrakan visioner yang kelak dapat dinikmati khalayak. Namun, meski Angel Investor kesannya berbasis kekeluargaan, kesepakatan yang dijalin tetap tidak terlepas dari perjanjian yang bersifat matematis dan sistem secara operasional juga wajib ditaati oleh kedua belah pihak, tergantung persetujuan bersama.

 

Investor Inkubator

Berbeda dengan Angel Investor, Investor inkubator merupakan sebuah lembaga atau perusahaan yang menyediakan modal secara finansial bagi beragam sektor bisnis perusahaan. Tidak hanya menyediakan modal secara finansial, tetapi Investor Inkubator juga menawarkan fasilitas pelatihan bagi mereka yang membutuhkan. Tujuannya adalah untuk dapat membimbing sebuah perusahaan meraih tujuan. Biasanya, mereka akan meninjau perusahaan-perusahaan yang memiliki potensi besar, namun skala operasionalnya masih terhitung rendah.

Mereka akan mengarahkan perusahaan tersebut dari segi manajemen supaya lebih terorganisir dengan baik. Mulai dari manajemen operasional sampai manajemen keuangan. Hal itu dilakukan dengan harapan dapat menghindari kerugian dan melampaui setiap tantangan yang ditemui. Apabila sistem berhasil diciptakan secara harmoni, maka profit juga dapat diraih lebih cepat dan mengalir berkelanjutan. Karena kerja sama yang dijalin merupakan relasi antara dua perusahaan, biasanya di kerugian sudah diprediksi di awal sehingga para Investor Inkubator akan menghindari perusahaan startup dengan risiko tinggi dan mencari perusahaan yang sudah dapat menghasilkan profit namun belum berkembang.

 

Venture Capital

Ini merupakan jenis investasi yang mirip dengan Investor Inkubator. Bedanya, dana yang ditanamkan pada sebuah perusahaan nantinya akan dijadikan saham dalam perusahaan tersebut. Sehingga, penanam modal juga tidak selalu merupakan lembaga atau sebuah perusahaan seperti investor inkubator, melainkan bisa perseorangan. Proses untuk mendapatkannya tentu sama dengan dua jenis investor sebelumnya; setelah mendapatkan penawaran business plan, investor yang merupakan sebuah firma atau perseorangan ini akan menyelidiki seluruh model bisnis perusahaan, termasuk produk atau jasa yang disediakan, sekaligus manajemen dan arsip operasional perusahaan.

Tidak sampai di situ, investor juga akan membandingkan informasi yang dimilikinya terkait perusahaan tersebut dan membandingkannya dengan competitor. Kemudian mereka akan menganalisa apa saja keunggulan serta kelemahannya. Proses analisis semacam ini tidak bisa dipisahkan dari syarat pengajuan, sebab dana yang akan diberikan tentu jumlahnya tidak sedikit. Sehingga pengambilan keputusan juga perlu dilakukan melalui proses pertimbangan matang.

Kenyang mengenyam asam garam di industri digital, Shinta Bubu bercerita bahwa ia kini memutuskan untuk berinvestasi di sumber daya manusia, alih-alih berinvestasi di produk atau jasa yang ditawarkan. Bagi Shinta, perubahan zaman bisa memengaruhi kualitas atau permintaan terhadap suatu produk atau jasa tersebut, tetapi apabila kita tetap mempertahankan sumber daya manusia yang menghasilkan dan mengelolanya, kita dapat terus berinovasi dan menciptakan sesuatu yang baru. Bersama para kreator tersebut, Shinta terus berusaha mengejar kemajuan zaman yang terus berkembang dinamis.

Jadi, investor mana yang Anda butuhkan bagi bisnis Anda?

Terima kasih telah membaca salah satu artikel berdasarkan tokoh inspiratif kita kali ini. Ikuti terus kisah inspiratif lainnya hanya di KARENA.ID.

Kembali ke blog